Wednesday, April 4, 2007

Kisah kucing hitam, Sang Legenda

Alkisah di salah satu sudut rumah didaerah yang cukup padat populasi kontrakannya, Ujung menteng daerah pinggiran kota Jakarta. Terdapat sebuah legenda, legenda kucing garong. Kucing hitam gemuk, berbadan kekar. Banyak terdapat luka cakaran dan penganiaan oleh ras yang di sebut manusia. Bukti bahwa dia sudah malang melintang di dunia pencurian lauk di daerah yang cukup sesak akan ras yang mendominasi di daerah ini.

Sang legenda itu terkenal cukup kuat untuk daerah rt 07 rw 01 di daerah tersebut. Cukup banyak kucing jantan lain yang mengadu nyali atau sekedar ingin merebut daerah kekuasaan sang legenda. Tetapi ke angkerannya, ke bringasannya dan kelihaianya dalam bertarung. Membuktikan kucing hitam tersebut cukup pantas disebut sang legenda tak terkalahkan. Dia cukup lihai bergulat dengan para pejantan lainnya. Tak ayal. Sudah banyak kucing lain yang tak berdaya, dan menjadi pecundang sejati oleh sang legenda. Kucing hitam.

Jangankan kucing jantan. Anjing pun, yang notabenenya musuh alami para kucing. Tak berdaya dibuatnya. Cukup dengan raungannya dan pose bertarungnya yang beringas, mampu membuat anjing yang setinggi setengah meter ciut nyalinya. Seakan-akan kini piramida rantai makan terbalik, sang pemangsa kini menjadi yang dimangsa.

Bila musim kawin, telah tiba. Sudah banyak para betina yang menjadi korban keganasan nafsu birahi sang legenda. Nyaris semua kucing betina tersebut tak berdaya menghadapi kebringasan sang legenda. Bahkan sangat tidak mungkin bila betina-betina tersebut tidak memilki anak yang memiliki warna hitam pekat seperti bapaknya.

Terlebih para ibu-ibu rumah tangga di sekitar derah kekuasaanya. Andai meleng sedikitnya saja dari pengawasan. Maka sudah dapat dipastikan, makanan yang ada dimeja maupun didapur tersebut telah pindah ke mulut sang legenda. Dengan trik liciknya, dia mengendap-endap dan mencuri lauk pauk. Dan yang hebatnya aksi tersebut cukup licin sekali. Sehingga dia jarang sekali terkena timbukan, bahkan penganiaan oleteh para ibu rumah tangga yang malang tersebut.

Tapi legenda pun kini tinggal legenda. Kini sang legenda seakan tak punya nyali lagi menghadapi kebesaran namanya. Kini dia bak kucing pesakitan. Yang tak berdaya menghadapi tuntutan zaman yang kejam ini. Legenda tersebut kini hanya tinggal cerita dongeng bagi para warga disekitar rt tersebut.

Sang kucing hitam pekat tersebut, kini bertingkah seperti anak kucing yang lucu dan imut. Dulu dia bila lapar tinggal mengendap kerumah korban dan mencuri lauk yang ada. Tapi sekarang dia, CUKUP berdiri didepan pintu dan bertingkah manja. Dia berguling-guling imut. Mengeluarkan suara meongnya yang imut sekali, penuh belas kasih. Dia pun duduk sopan di pintu rumah korban. Sungguh janggal pemandangan tersebut. Seakan kontran sekali dengan tubuhnya yang penuh luka dan kisah masa lalunya yang angker.

Selamat jalan sang legenda। Selamat tinggal kisah muda mu. Kini kau terbalut ringkih. Menunggu sang Izroil melaksanakan tugasnya. Akhir bulan ini aku tak melihat lagi kucing tersebut. Aku rindu dia, rindu akan suara ribut yang di keluarkan dia ketika bertarung dengan pejantan lain. Rindu akan kaingan anjing yang takut berhadapan dengannya. Rindu akan pemandangan dia merayu para kucing betina.

Selamat jalan kawan. Kini kisahmu tinggal legenda, yang akan diperebutkan para pejantan lain. Yang kini sedang bersiap-siap menggambil nama baikmu di lingkungan ini.

No comments:

Post a Comment