Wednesday, April 4, 2007

Aparat yang bermain atau Microsoft Indonesia yang tidak peduli ?

Ini cerita nyata, sungguh benar-benar terjadi. Cerita ini berasal dari pedagang langganan saya di salah satu toko Mangga dua. Panggil saja dia “Bunga”,dia menuturkan cerita yang dialami sesama para pedagang yang ada di mangga dua.s

Dia menceritakan, belum beberapa lama ini temannya yang memiliki toko perakitan komputer di Dusit Mangga dua, yah bisa dibilang toko yang cukup terkenal akan kemurahan harganya. Disatroni para aparata keamanan karena menginstal windows bajakan. Yang saya tidak suka adalah seakan-akan para aparat itu sengaja memanfaatkan undang-undang HAKI. Untuk mengeruk keuntungan dari para pedagang. Setidaknya itu yang saya dengar dari Bunga.

Dia mencerikan ketika itu karyawannya merakit komputer pesanan konsumen.Karyawan tersebut di SURUH menginstal komputer pelanggan dengan windows bajakan. Memang si karyawan telah diinstruksikan oleh pemilik toko tersebut. Untuk tidak menerima penginstalan komputer menggunakan sistem operasi windows bajakan.

Akan tetapi dengan penawaran terhadap karyawan tersebut .Dia, sang pelanggan membayar uang sebesar 200 ribu kepada karyawan tersebut. Dan ternyata setelah komputer itu selesai di rakit dan di instal. Pelanggan itu meminta agar pemilik toko tersebut berhadapan dengan dia. Dan ternyata pelanggan tersebut adalah intel aparat keamanan negara ini. Langsung saja toko tersebut di sita. Dan komputer rakitan yang malang tersebut di sita sebagai barang bukti karena menginstall windows bajakan.

Menurut undang-undang -sayangnya Bunga tidak menjelas dengan rinci- mestinya pemilik toko tersebut harus membayar denda sebesar Rp. 5 milyar. Tapi ternyata dengan jalan damai, cukup dengan membayar Rp. 100 ribu. Masalah itu beres. Dan kata Bunga, uang itu bukan masuk kas Microsoft Indonesia. Tetapi masuk kas para oknum aparat tersebut.

Sontak saja saya kaget. Bagaimana tidak. Dengan liciknya para intel tersebut menyebak karyawan toko tersebut. Memang saya akui cara-cara tersebut cukup lumrah di lakukan oleh pihak aparat untuk menjaring para penjahat. Tetapi yang saya sesalkan. Justru para aparat tersebut seakan-akan bermain dengan undang-undang yang berlaku. Dan dari celah-celah yang terdapat dari undang-undang tersebut. Mereka dapat bertindak semena-mena, salah satunya memeras para pemilik toko tersebut.

Kini toko tersebut tetap buka. Walau kini saya lihat toko tersebut tidak semurah seperti dulu. Saya masih bersyukur setidaknya karyawannya masih tetap di pekerjakan. Saya pun khawatir terhadap karyawan yang bersalah tersebut. Syukur deh dia kaga ada bekas penganiaan secara fisik dari pemilik toko.

Bunga juga menceritakan pengalaman salah satu klien dia, pemilik warnet di salah satu daerah strategis di Jakarta. Dia menuturkan warnet klien dia di razia oleh aparat, padahal dengan jelas-jelas dia memakai windows asli dan di tempat klien dia berusaha juga telah TERPASANG stiker bahwa toko tersebut telah menggunakan windows asli.

Tapi apa kata aparat tersebut ? katanya anda menyewakan windows. Itu yang menjerat anda di hukum. Hah, saya sebagai penulis kaget sekali mendengar kata-kata tersebut. Waduh-waduh ada-ada saja. Jelah undang-undang yang ada digunakan oleh aparat agar sang pemilik dapat menempuh jalur damai. Tanpa menempuh jalur hukum.

Cape deh, saya mendengar perlakuan aparat yang kadang-kadang mengada-ada. Kini Bunga dan para pemilki toko di Mangga dua terpaksa membeli windows asli. Supaya tidak terjaring oleh para aparat. Fuih, susah juga berdagang di Indonesia. Pantesan saja para investor pada melarikan modalnya keluar negeri. Wong aparat aja yang harusnya mengayomi eh memerasi para investor.

Saya hanya berharap setidaknya undang-undang tersebut dimasyarakat dengan baik. Sehingga para pemilik usaha ataupun para pemakai windows asli. Tidak kesaring oleh para ulah aparat yang semena-mena. Begitu pula dengan para aparat, jangan semena-mena dengan para pedagang. Berlakulah adil. Semoga cerita-cerita miring tetang aparat yang lainnya tidak terdengar lagi.. Amien.

Yah hanya Allah saja yang tahu. Arah kehidupan ini.

Kisah kucing hitam, Sang Legenda

Alkisah di salah satu sudut rumah didaerah yang cukup padat populasi kontrakannya, Ujung menteng daerah pinggiran kota Jakarta. Terdapat sebuah legenda, legenda kucing garong. Kucing hitam gemuk, berbadan kekar. Banyak terdapat luka cakaran dan penganiaan oleh ras yang di sebut manusia. Bukti bahwa dia sudah malang melintang di dunia pencurian lauk di daerah yang cukup sesak akan ras yang mendominasi di daerah ini.

Sang legenda itu terkenal cukup kuat untuk daerah rt 07 rw 01 di daerah tersebut. Cukup banyak kucing jantan lain yang mengadu nyali atau sekedar ingin merebut daerah kekuasaan sang legenda. Tetapi ke angkerannya, ke bringasannya dan kelihaianya dalam bertarung. Membuktikan kucing hitam tersebut cukup pantas disebut sang legenda tak terkalahkan. Dia cukup lihai bergulat dengan para pejantan lainnya. Tak ayal. Sudah banyak kucing lain yang tak berdaya, dan menjadi pecundang sejati oleh sang legenda. Kucing hitam.

Jangankan kucing jantan. Anjing pun, yang notabenenya musuh alami para kucing. Tak berdaya dibuatnya. Cukup dengan raungannya dan pose bertarungnya yang beringas, mampu membuat anjing yang setinggi setengah meter ciut nyalinya. Seakan-akan kini piramida rantai makan terbalik, sang pemangsa kini menjadi yang dimangsa.

Bila musim kawin, telah tiba. Sudah banyak para betina yang menjadi korban keganasan nafsu birahi sang legenda. Nyaris semua kucing betina tersebut tak berdaya menghadapi kebringasan sang legenda. Bahkan sangat tidak mungkin bila betina-betina tersebut tidak memilki anak yang memiliki warna hitam pekat seperti bapaknya.

Terlebih para ibu-ibu rumah tangga di sekitar derah kekuasaanya. Andai meleng sedikitnya saja dari pengawasan. Maka sudah dapat dipastikan, makanan yang ada dimeja maupun didapur tersebut telah pindah ke mulut sang legenda. Dengan trik liciknya, dia mengendap-endap dan mencuri lauk pauk. Dan yang hebatnya aksi tersebut cukup licin sekali. Sehingga dia jarang sekali terkena timbukan, bahkan penganiaan oleteh para ibu rumah tangga yang malang tersebut.

Tapi legenda pun kini tinggal legenda. Kini sang legenda seakan tak punya nyali lagi menghadapi kebesaran namanya. Kini dia bak kucing pesakitan. Yang tak berdaya menghadapi tuntutan zaman yang kejam ini. Legenda tersebut kini hanya tinggal cerita dongeng bagi para warga disekitar rt tersebut.

Sang kucing hitam pekat tersebut, kini bertingkah seperti anak kucing yang lucu dan imut. Dulu dia bila lapar tinggal mengendap kerumah korban dan mencuri lauk yang ada. Tapi sekarang dia, CUKUP berdiri didepan pintu dan bertingkah manja. Dia berguling-guling imut. Mengeluarkan suara meongnya yang imut sekali, penuh belas kasih. Dia pun duduk sopan di pintu rumah korban. Sungguh janggal pemandangan tersebut. Seakan kontran sekali dengan tubuhnya yang penuh luka dan kisah masa lalunya yang angker.

Selamat jalan sang legenda। Selamat tinggal kisah muda mu. Kini kau terbalut ringkih. Menunggu sang Izroil melaksanakan tugasnya. Akhir bulan ini aku tak melihat lagi kucing tersebut. Aku rindu dia, rindu akan suara ribut yang di keluarkan dia ketika bertarung dengan pejantan lain. Rindu akan kaingan anjing yang takut berhadapan dengannya. Rindu akan pemandangan dia merayu para kucing betina.

Selamat jalan kawan. Kini kisahmu tinggal legenda, yang akan diperebutkan para pejantan lain. Yang kini sedang bersiap-siap menggambil nama baikmu di lingkungan ini.

Balada kereta api di Indonesia

Jam di hp saya menunjukan pukul setengah 10 pagi, agak telat setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Kami memang berjanji untuk berkumpul di stasiun kereta api pada jam 10 WIB. Kini saya sudah berada si stasiun kereta api Pondok cina, depok. Sebenarnya saya tidak punya tujuan kemana-mana untuk hari itu. Hanya sekedar menemani teman membeli accesoris komputer di Mangga dua. Surga bagi para anak-anak TI.

Dengan hanya berbekal uang Rp. 1.500, kami membeli tiket kelas ekonomi jurusan Bogor – Kota. Ku akui akhir-akhir pelayanan kereta api sudah meningkat. Sekarang di setiap gerbong pasti ada polisi atau setidaknya penjaga keamanan “resmi”dari kereta api a.k.a Perumka.
Dengan adanya petugas tersebut. Alhamdulillah, setidaknya memberikan perasaan aman selama menaiki kereta api, sarana transportasi yang murah meriah bagi rakyat kecil.

Tidak hanya itu. Sekarang di setiap pintu masuk peron pun, juga terdapat petugas pemeriksa tiket. Sesuatu yang jarang ada di setiap peron. Setidaknya menurut pengamatan saya. Petugas itu memeriksa penumpang kereta api, apakah memiliki tiket atau tidak. Bila tidak memililiki tiket “ katanya sih” akan kena denda. Kalo penumpang kelas ekonomi kena denda Rp 5.000. Kalo kelas eksekutf kena denda Rp. 35.000. Yah setidaknya itu apa yang saya lihat di poster yang terpajang di loket tiket stasiun.

Sebelum kami menaiki kereta. Saya dan beserta teman saya 4 orang menitip dompet dan hp mereka kedalam tas saya. Yah ini merupakan cara paling lumrah ketika menaiki kereta api. Setidaknya sudah menjadi rahasia umum, kalo di menaiki kereta api, lebih khususnya kelas ekonomi akan banyak para pencopet atau pun penjamret. Ini adalah salah satu seni meniki kereta api di negara tercinta ini. “Anda waspada, anda bahagia”, setidaknya itu selogan menurut saya.

Akhirnya kereta yang saya tunggu tiba juga. Seperti yang saya duga, gerbong penuh dengan para penumpang. Dengan tergesa kami menaiki gerbong kereta yang setidaknya agak “sedikit” lenggang menurut saya.

Jujur saja, sepanjang hidup saya. Naik kereta api di Indonesia itu begitu menarik dan unik. Bayangkan di setiap gerbong seakan memiliki kehidupannya sendiri-sendiri. Anda haus, disana akan banyak para pedagang yang menawarkan aneka minuman baik dari kopi hinnga sebotol soft drink. Anda ingin membeli vitamin untuk tanaman anda, juga tersedia. Ingin menikmati alunan musik, anda pun dapat menikmatinya.

Sungguh pemandangan yang menakjubkan bagi saya selama menaiki kereta api di Indonesia, yang mungkin belum tentu di negara lain memiliki hal yang sama. Walaupun tidak semuanya menyenangkan bagi saya. Ada juga hal-hal yang membuat saya sebal dengan masalah seperti para pengawen yang membawa lagunya secara fals, para pengemis, peminta sumbangan untuk kegiatan agama. Yang membuat saya kesal adalah saya melihat dengan kepala saya sendiri. Mereka meminta sumbangan atas nama yayasan tertentu. Dan uang yang telah di sumbangkan oleh para penyumbang. Dia belanjakan buat kebutuhan pribadi. Kalo saya tahu dia akan menggunakan untuk hal pribadi. Saya sungguh sangat tidak rela.

Kini stasiun kota telah mendekat.Saya dan teman-teman bersiap-siap menuruni kerata api. Kami pun berhenti di pemberhentian akhir, Stasiun kota. Lalu kami menaiki angkot menuju ke Mangga dua.

Setelah mendapat apa yang kami cari di Mangga dua, kami pun kembali membeli karcis dan menaiki kereta jurusan Kota – Bogor. Waktu menunjukan jam tiga sore. Kami agak sedikit terlambat. Sebab pada jam tersebut adalah jam-jamnya orang pulang kerja. Yah, jadi siap-siap saya kami berdesakan dengan para penumpang lainnya yang juga menggunakan jasa transportasi ini. Saya sudah membayangkan, di kota saja sudah penuh akan penumpang. Apalagi nanti berhenti di stasiun tebet dan cawang daerah diamana banyaknya arus penumpang yang naik maupun turun di kedua stasiun tersebut. .

Walah sesak. Untuk bernafas saja saya sulit. Mau bagaimana lagi. Para penumpang pun pasti berpikiran sama. Diamana lagi terdapat transportasi murah meriah, dan terpaksa menaikinya walaupun dengan mengorbankan kenyamanan dan keamanan.

Akhirnya perjalanan pada hari ini telah selesai. Kami berhenti di satsiun Pondok cina. Itupun dengan susah payah menuruni dari kerumunan orang yang menumpuk di depan pintu gerbong kereta api. Entah kenapa pintunyz hanya terbuka setangah saja. Tidak terbuka penuh. Akhiranya saya mendarat juga di bumi. Fuih, sungguh cape kaki saya, pegel-pegel di sekujur badan, suatu kejala lumrah kalo kita berdiri selama menaiki kereta api.

Ahk, entah sampai kapan negara ku yang tercinta ini mememliki trnsportasi yang murah dan lebih manusiawi dari ini. Yah setidaknya selama perekonomian negara ini sudah membaik. Saya berharap sekali pemerintah dan pihak yang berwenang mampu menciptakan sarana yang jauh lebih baik dari sekarang ini.