Wednesday, April 4, 2007

Balada kereta api di Indonesia

Jam di hp saya menunjukan pukul setengah 10 pagi, agak telat setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Kami memang berjanji untuk berkumpul di stasiun kereta api pada jam 10 WIB. Kini saya sudah berada si stasiun kereta api Pondok cina, depok. Sebenarnya saya tidak punya tujuan kemana-mana untuk hari itu. Hanya sekedar menemani teman membeli accesoris komputer di Mangga dua. Surga bagi para anak-anak TI.

Dengan hanya berbekal uang Rp. 1.500, kami membeli tiket kelas ekonomi jurusan Bogor – Kota. Ku akui akhir-akhir pelayanan kereta api sudah meningkat. Sekarang di setiap gerbong pasti ada polisi atau setidaknya penjaga keamanan “resmi”dari kereta api a.k.a Perumka.
Dengan adanya petugas tersebut. Alhamdulillah, setidaknya memberikan perasaan aman selama menaiki kereta api, sarana transportasi yang murah meriah bagi rakyat kecil.

Tidak hanya itu. Sekarang di setiap pintu masuk peron pun, juga terdapat petugas pemeriksa tiket. Sesuatu yang jarang ada di setiap peron. Setidaknya menurut pengamatan saya. Petugas itu memeriksa penumpang kereta api, apakah memiliki tiket atau tidak. Bila tidak memililiki tiket “ katanya sih” akan kena denda. Kalo penumpang kelas ekonomi kena denda Rp 5.000. Kalo kelas eksekutf kena denda Rp. 35.000. Yah setidaknya itu apa yang saya lihat di poster yang terpajang di loket tiket stasiun.

Sebelum kami menaiki kereta. Saya dan beserta teman saya 4 orang menitip dompet dan hp mereka kedalam tas saya. Yah ini merupakan cara paling lumrah ketika menaiki kereta api. Setidaknya sudah menjadi rahasia umum, kalo di menaiki kereta api, lebih khususnya kelas ekonomi akan banyak para pencopet atau pun penjamret. Ini adalah salah satu seni meniki kereta api di negara tercinta ini. “Anda waspada, anda bahagia”, setidaknya itu selogan menurut saya.

Akhirnya kereta yang saya tunggu tiba juga. Seperti yang saya duga, gerbong penuh dengan para penumpang. Dengan tergesa kami menaiki gerbong kereta yang setidaknya agak “sedikit” lenggang menurut saya.

Jujur saja, sepanjang hidup saya. Naik kereta api di Indonesia itu begitu menarik dan unik. Bayangkan di setiap gerbong seakan memiliki kehidupannya sendiri-sendiri. Anda haus, disana akan banyak para pedagang yang menawarkan aneka minuman baik dari kopi hinnga sebotol soft drink. Anda ingin membeli vitamin untuk tanaman anda, juga tersedia. Ingin menikmati alunan musik, anda pun dapat menikmatinya.

Sungguh pemandangan yang menakjubkan bagi saya selama menaiki kereta api di Indonesia, yang mungkin belum tentu di negara lain memiliki hal yang sama. Walaupun tidak semuanya menyenangkan bagi saya. Ada juga hal-hal yang membuat saya sebal dengan masalah seperti para pengawen yang membawa lagunya secara fals, para pengemis, peminta sumbangan untuk kegiatan agama. Yang membuat saya kesal adalah saya melihat dengan kepala saya sendiri. Mereka meminta sumbangan atas nama yayasan tertentu. Dan uang yang telah di sumbangkan oleh para penyumbang. Dia belanjakan buat kebutuhan pribadi. Kalo saya tahu dia akan menggunakan untuk hal pribadi. Saya sungguh sangat tidak rela.

Kini stasiun kota telah mendekat.Saya dan teman-teman bersiap-siap menuruni kerata api. Kami pun berhenti di pemberhentian akhir, Stasiun kota. Lalu kami menaiki angkot menuju ke Mangga dua.

Setelah mendapat apa yang kami cari di Mangga dua, kami pun kembali membeli karcis dan menaiki kereta jurusan Kota – Bogor. Waktu menunjukan jam tiga sore. Kami agak sedikit terlambat. Sebab pada jam tersebut adalah jam-jamnya orang pulang kerja. Yah, jadi siap-siap saya kami berdesakan dengan para penumpang lainnya yang juga menggunakan jasa transportasi ini. Saya sudah membayangkan, di kota saja sudah penuh akan penumpang. Apalagi nanti berhenti di stasiun tebet dan cawang daerah diamana banyaknya arus penumpang yang naik maupun turun di kedua stasiun tersebut. .

Walah sesak. Untuk bernafas saja saya sulit. Mau bagaimana lagi. Para penumpang pun pasti berpikiran sama. Diamana lagi terdapat transportasi murah meriah, dan terpaksa menaikinya walaupun dengan mengorbankan kenyamanan dan keamanan.

Akhirnya perjalanan pada hari ini telah selesai. Kami berhenti di satsiun Pondok cina. Itupun dengan susah payah menuruni dari kerumunan orang yang menumpuk di depan pintu gerbong kereta api. Entah kenapa pintunyz hanya terbuka setangah saja. Tidak terbuka penuh. Akhiranya saya mendarat juga di bumi. Fuih, sungguh cape kaki saya, pegel-pegel di sekujur badan, suatu kejala lumrah kalo kita berdiri selama menaiki kereta api.

Ahk, entah sampai kapan negara ku yang tercinta ini mememliki trnsportasi yang murah dan lebih manusiawi dari ini. Yah setidaknya selama perekonomian negara ini sudah membaik. Saya berharap sekali pemerintah dan pihak yang berwenang mampu menciptakan sarana yang jauh lebih baik dari sekarang ini.

No comments:

Post a Comment